Debat dan Pemilihan Calon Rois ‘am : Santun Berdebat, Siap Memimpin
Debat calon Rois ‘am YPP Miftahulhuda Al-musri’ periode 2026-2028 yang mengusung tema “Optimalisasi Kepemimpinan Santri dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Kesehatan, dan Kehidupan Pesantren” berlangsung khidmat pada Kamis, 25 Desember 2025. Kegiatan yang berlangsung di Aula Alfaqih pukul 08.00 ini dihadiri oleh para santri, dewan kyai sepuh maupun ampuh, dan para pengurus OSMA sebagai bagian dari proses seleksi kepemimpinan organisasi santri Miftahulhuda Al-musri’.
Adapun kandidat calon rois ‘am periode 2026-2028, yaitu:
- Ust Rizlam Febrian ( Dirosah 1 )
- Ust Fiqhi Abdussalam ( Dirosah 2 )
- Ust Ade Rifzan Ardiansyah ( Dirosah 3 )
Rundown acara debat dan pemilihan rois am dari awal sampai akhir:
AGENDA PAGI (PEMAPARAN & NILAI SUBSTANSI)
PEMBUKAAN RESMI
Segmen 1 – Visi, Misi
Segmen 2 – Tanya Jawab Panelis
Segmen 3 – Debat Antar Kandidat (Cross Question)
Segmen 4 – Quick Response
Segmen 5 – Pertanyaan dari Santri
Segmen 6 – Closing Statement
PENUTUPAN
RUNDOWN FINAL
MALAM PEMILIHAN (PENYOBLOSAN) ROIS ‘AM
AGENDA MALAM
PEMBUKAAN PEMILIHAN
PROSES PENYOBLOSAN
PENUTUPAN PENCOBLOSAN
PENGHITUNGAN SUARA (TERBUKA)
PENETAPAN HASIL (BERITA ACARA)
PENUTUPAN
Debat digelar untuk mengukur kemampuan komunikasi, kapasitas kepemimpinan, serta kesiapan para calon dalam mengemban amanah sebagai pemimpin pesantren. Pada sesi awal, para calon memaparkan visi dan misi yang mereka usung. Gagasan-gagasan tersebut disambut baik oleh para santri yang mengikuti jalannya acara dengan antusias.
Memasuki sesi pertanyaan dari Ust. Kamal Ahmad Satria, suasana semakin fokus namun tetap kondusif. Ust. Kamal memberikan pertanyaan terkait seputar kepemimpinan. “Bagaimana cara kalian menjaga jati diri santri di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat?” tanyanya. Para calon memberikan jawaban tegas mengenai pentingnya adab, keteladanan, dan budaya ilmiah sebagai benteng identitas santri.
Sesi pertanyaan dari santri putri kelas 3 Dirosatul Ulya berlangsung tak kalah menarik. Ia bertanya dalam bidang ketarbiyahan. “Apa ada ketegasan dalam rois am untuk pengurus yang kurang dalam bidang pendidikannya? Dan bagaimana memajukan agar lebih meningkatkan daya pengurus agar lebih baik?”
Kandidat nomor 1 menjawab, “Pengaruhnya dikarenakan adanya kebiasaan-kebiasaan dari tingkat kelas atas faktanya terkhusus kepada santriyin dan dalam kenyataanya itu sendiri itu bukan kesalahan tapi realita. Solusinya absensinya harus lebih ketat lagi.”
Kandidat nomor 2 menjawab, “Pemimpin harus mempunyai keberanian moral dan hukum kepada pengurus semuanya dalam tindakan seperti itu.”
Terakhir, kandidat nomor 3 menjawab, “Hukumannya sudah terpampang jelas adanya dalam biro tersebut, seperti adanya ta’ziran untuk pengurus. Dampak pengaruh besarnya ini persenan dalam kedirosahan.”
Adapun segmen terakhir yaitu closing statement yang dikemukakan oleh masing-masing kandidat. Mereka menjawab jujur mengenai tantangan menjaga amanah, mengatur waktu, dan memastikan program berjalan efektif. Kejujuran tersebut mendapat apresiasi dari peserta debat. Para calon menegaskan bahwa pendekatan persuasif, komunikasi yang hangat, serta suasana kekeluargaan adalah kunci agar seluruh santri dapat mengikuti program pesantren secara optimal.
Debat berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dan ditutup dengan suasana hangat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang adu argumen, tetapi juga ruang untuk menilai kedewasaan, kesiapan, dan komitmen para calon dalam memimpin pesantren ke arah yang lebih baik. Mari bersama-sama menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dan berbudi luhur.
Editor : Siti Nanda Wahidah
